Minggu, 05 Februari 2017

SANGAT MIRIS ...INDONESIA BERADA DI URUTAN 60 DARI 76 NEGARA DI DUNIA

Hasil gambar untuk orang membaca buku    Hasil gambar untuk orang membaca buku


Buku Oh buku, mengapa setiap tahun ajaran baru , selalu engkau yang diperbincangkan,
oleh para orang tua di seantero Indonesia.  Banyak orang tua yang bertanya ke pihak
sekolah, berapakah harga buku untuk tahun ini ?
Wajar sekali mereka bertanya - tanya tentang harga buku.  Karena selama ini info tentang buku
yang akan dipelajari pada setiap semester memang berasal dari pihak sekolah selain
memang dibutuhkan, dalam hal ini orangtua juga dipermudah dalam memenuhi kebutuhan
buku anak-anaknya.  Orang tua juga tidak mesti bersusah payah mencari buku ke toko buku atau ke Mall terdekat yang menyediakan buku. Buku  memegang peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah.

Tetapi hal itu tidak berlaku untuk saat ini, buku tidak boleh lagi diperjualbelikan di area sekolah.
Pihak sekolah tidak diperkenankan untuk menjual buku.
Saya sebagai orang tua menyayangkan, mengapa sekolah tidak diperkenankan untuk
menjual buku, menurut saya dengan adanya buku , para siswa dan orang tua dimudahkan
dalam mempelajari sesuatu yang tidak dimengerti.  Karena jika siswa tidak dibekali dengan buku
mereka akan sangat malas membaca.  lagipula jika hanya mengandalkan dari materi
yang diajarkan guru tentu masih sangat kurang. membeli di luaran terkadang suka salah.

Ah, saya jadi terpikir mengapa Indonesia menduduki urutan ke 60 dari 76 negara dalam hal tingkat membaca penduduknya. Selain harga buku yang mahal untuk masyarakat yang kurang mampu,terkadang anak-anak kita masih sangat kurang tingkat membacanya.  Mereka yang berasal dari kalangan menegah ke atas lebih asyik bermain ponsel atau game dibanding membaca.
 
Buku dan negara maju menjadi dua hal yang tidak terpisahkan. Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris mengungkapkan semua negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Prancis, dan Jerman menjadi negara yang mendominasi penerbitan buku dunia.

Langkah ini kemudian disusul oleh Rusia, Spanyol, Cina, dan India. Bahkan di India, kata Fahira, harga buku dari penerbit internasional dan ternama sekalipun sangat murah karena tidak ada pajak buat penerbitan buku. Hasilnya, India menjelma menjadi salah satu kekuatan dunia.

Fahira mengatakan untuk mendukung perbukuan di Indonesia, DPD sedang menyusun RUU Sistem Perbukuan jadi prioritas pada 2016. RUU ini didorong segera kelar tahun ini karena memang kehadirannya sangat mendesak.

Pada Maret 2016 lalu, Most Literate Nations in the World merilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada di urutan ke-60 di antara total 61 negara. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di dunia yang memang dari tahun ke tahun belum beranjak dari papan bawah dalam berbagai survei internasional. Salah satunya World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara.

“Buku menjadikan mereka menguasai ilmu pengetahuan. Bukankah Jepang menjadi penguasa teknologi dunia karena sejak dulu pemerintahnya punya program menerjemahkan berbagai buku dari dunia barat kemudian dijual dengan harga yang cukup murah? Ini semua bisa terjadi karena mereka sudah punya sistem perbukuan," kata Fahira, Kamis (28/4).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar